Lebanon. seperti juga sebuah film Jepang bertitle Cashern. dimana bersetting cerita postmo dan masa depan. tentang kehadiran penemuan "nyawa" manusia yang mampu menghiudpkan kembali orang yang telah wafat. cuma pesan moral dari film ini begitu menarik buat disimak.
bahwa ternyata terkadang kita harus lebih dahulu membunuh untuk sekedar menutupi rasa ketakutan kita akan dibunuh terlebih dahulu. dan sialnya rasa ketakutan itu membabi buta sehingga orang tua, anak-anak dan orang tak berdosa lainnya menjadi korban dari kegilaan insting manusia bernama rasa takut itu sendiri. dan tepat di tempat kelahiran pujangga besar Kahlil Gibran kita menyaksikan pembantaian manusia yang tak berdosa untuk sekedar memulihkan perasaan ketakutan. Israel membabi buta mengamuk membombardir pedesaan, dan rumah penduduk.
Tuhan memang terlalu kejam. membiarkan keangkaramurkaan, tapi Tuhan memang tidak berpijak dan berkecenderungan. kita sendiri manusia yang memilki kecenderungan. Tuhan hanya sering dibwaa-bawa namanya dalam setiap kesempatan. sialnya bahkan nama Tuhan sering kali terpakai untuk dan atas nama pembunuhan. dan seolah pembenaran ini menjadi legitimasi untuk perbuatan yang justru keluar dari sisi moral.. pertanyaan selanjutnya ukuran moralitas mana yang meng-halal-kan pembunuhan dan pengusiran.. untuk sebuah ego sejarah dari label scriptik sebuah kepercayaan.
Tuhan aku tau.. kau sebenernya tidak ikut campur dalam pertikaian hambamu ini. karena memang jadi arang dan yang kalahjadi debu. yang kalah hanya setan kecil belaka dan yang menang adalah iblis laknat yang pasti akan mengidap penyakit angkuh dan sombong. sebuah ciri2 yang jelas jauh dari nilai2 surgawi. karena penghubi surga setitikpun mestinya tak punya keangkuhan dan kesombongan.
terkadang baik unttuk hidup menderita dan sengsara, tertekan, terjajah dan terhina. karena hiudp didunia hanya sementara. yang ibarat hanya setetes air dijemari kita, sedangkan kehidupan lainnya laksana lautan samudra. mkn memang pilihan2 untuk hanya bahagia tapi sesaat dan menyesatkan.. atau menderita dan sengsara tapi hanya sebentar saja.
semoga kita menyadari hakekat. kehidupan bukan sekedar hakekat ke-aku-an
dany
0 Responses to “Lebanon tanah kelahiran Pujangga KG itu kini porak poranda”
Leave a Reply